Tampilkan postingan dengan label cerita aja dulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita aja dulu. Tampilkan semua postingan

Perbedaan ‘Critical Eleven’ di Film dan di Novel

Hello… hello… Bertemu lagi kita di blogqu yang keren ini. Hahaha *apasik* Kali ini gue pengen ulas-ulas sedikit tentang Critical Eleven. Yang main socmed pasti udah pada tau apa itu Critical Eleven, kalau nggak tau cek aja akun Instagram Critical Eleven (criticaleleven) atau kalian bisa ke bioskop dan tanya-tanya sama mba-mba bioskopnya “Critical Eleven itu apa?” atau kalian bisa ke toko buku dan search buku Critical Eleven biar makin tahu, ya nggak? Hahaha *apadah gue*

Seperti Bertemu Belahan Jiwa

Hello... hello...
Kalau ada yang tahu novel Dear Nathan, gue udah lama banget tahu novel itu sebelum dijadiin novel. Heheh. Jadi awalnya gue baca kan di Wattpad dan gue langsung suka gitu, tapi sayangnya gue nggak baca sampe abis karena nggak lama penulisnya mau nerbitin cerita Dear Nathan itu. Abis itu ada kabar lagi Dear Nathan mau dibuat versi filmnya. Seneng dong gue.



'Kudu' Sabar Jadi Jurnalis

Goog night, everybody!

Akhir-akhir ini lagi pengen banget nge-blog. Lagi bosan dengan sosial media yang lain. Asikdah.


Aku pengen cerita-cerita aja, sih. Masalah dikit-banyaknya belakangan aja.
Aku mau curhat rasanya jadi jurnalis itu. Hufff.... Butuh perjuangan dan SABAR, guys!
Kenapa perjuangan? Karena untuk cari kontak atau apapun itu mengenai narasumber GAK mudah.

Jadi gini. Kalau sebelum wawancara narsum itu, aku harus cari kontaknya dulu, kan. Cari kontak sih gak susah. Kita bisa nanya teman atau stalk-stalk sosmednya (bagian ini yang paling aku suka saat mau bikin naskah). Setelah itu di kontak. Butuh waktu beberapa hari untuk nunggu balasan dia, padahal lagi dikejar deadline. *soksokdah* tapi ini serius.

Tapi kadang yang lebih nyesek, udah nunggu kabar dari doi berhari-hari. Pas dikonfirmasi lagi, ternyata gak bisa diwawancara karena alasan tertentu. Hiks.... Tapi aku paham, sih. Setiap orang pasti punya privasi.

Yang bikin sedih lagi, itu saat aku chat narsum terus menerus. Aku tanya untuk kelanjutan wawancaranya, karena chat aku gak dibales lagi padahal doi aktif. Itu yang bikin sedih sih. Kalau aku sih nggak pa-pa kalau nggak mau atau nggak bersedia diwawancara. Bilang aja, kan. Daripada aku nunggu-nunggu. Untung aku udah biasa menunggu.

Ya, aku mencoba untuk sabar. Karena nggak semua narsum aku kayak gitu, sih. Karena juga, gak setiap orang harus menjadi apa yang kita mau. Setiap orang berbeda sifat. Aku mah kalau lagi bingung atau sedih tentang masalah kehidupan kayak gini ya berdoa, kalau gak ngeblog (itu kalau ada paket), kalau gak baca quote. wkwk *gakpentingbangetdah

Itu aja sih yang mau diceritain. Intinya kalau mau jadi jurnalis itu.... kudu sabar. Semua pekerjaan sih sebenernya. Ah gue cerita dari kemarin isinya keluh kesah mulu dah. Hahaha... Tapi ini cuma share doang, kok. Nggak ada niatan buat menjatuhkan. Karena lagi penat, kalau dipendem jadi stressss -___- wkwk *walaupungakadayangbaca

Bye bye!!
Thankyou :)

Kali-kali Indi Curhat

Annyeonghaseyo! 

I'm come back, nih. Come back karena mau curhat. Karena juga nggak ada orang yang tepat buat untuk diajak cerita dan bingung mau berbagi sama siapa. So, daripada ini blog garing yaudah cerita di sini aja.Walaupun nggak ada yang baca juga hahaha #gakpentingdahndi

Aku lagi pengen curhat masalah kuliah. Masalah tugas sih lebih tepatnya. Sebenernya sih tugas bukan masalah-masalah banget, ya. Tapi nggak tau kenapa akhir-akhir ini jadi banyak pikiran gitu *sok banget dah*
Ya, gimana ya. Padahal mah males sebenernya mikirin tugas. Mikirin artikel yang belum kelar, lah. Tugas foto yang aku-nya nggak ada ide sama sekali lah. Serasa nggak kelar-kelar. Kayak perasaan aku sama dia.

Padahal lagi pengen ngumpul sama teman. Tapi apa daya. Makin ke sini, makin ngga ada waktu. Waktu sama keluarga juga nggak ada. Tapi semua itu emang harus disukurin juga. Ibaratnya ini masih latihan, belum masalah-masalah yang kita hadapin di masa yang akan datang, yekan?


Cerita Singkat Tentang Buku Travelicious : Lombok

Hari Rabu minggu kemarin, saya baru saja mengunjungi pameran buku Indonesia International Book Fair (IIBF) yang diselenggarakan di JCC, Senayan. Saya antusias banget untuk mengunjungi pameran buku ini. Ya, walaupun rasanya sangat kurang dari segi waktu. Lalu, yang membuat saya senang sekaligus antusias pada setiap pameran buku seperti ini adalah stand yang menjual buku-buku murah. Seperti halnya penerbit Mizan yang menjual buku murah dengan kualitas bagus.



MENGAPA SAYA HARUS MENULIS ?

Menulis adalah bagian penting dalam kehidupan seseorang. Proses manusia untuk menuangkan segala pikiran yang tersimpan di dalam otaknya. Perasaan sedih, senang, kecewa, marah, dan lain-lain bisa kita curahkan ke dalam sebuah tulisan. Semua perasaan yang kita miliki bisa kita tuangkan ke dalam sebuah lembaran atau notes, saat tak ada yang bersedia mendengarkan keluh senang maupun sedih.

Sebagian orang berpendapat bahwa menulis harus memiliki skill yang bagus dan baik. Harus merangkai kata-kata sedemikian bagusnya dan puitis, yang membuat orang lain susah mengerti. Perlu diketahui, menulis merupakan media paling hebat, media yang dapat mempengaruhi pikiran orang banyak. Menulis tidak perlu menggunakan bahasa yang tinggi dan tidak mudah dipahami oleh pembaca. Gunakan bahasa sederhana dan bersahabat dengan pembaca. Belajar mengasah diri menjadi seseorang penulis yang pandai mengajak dan menarik perhatian pembaca.

Kenapa kita — anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua perlu menulis? Dalam artian di sini, saya bukan membahas tentang bagaimana menjadi seorang ‘Penulis’ tapi belajar menulis. Menulis tidak pernah dibatasi dengan usia, status sosial, atau bahkan jenis kelamin. Semua kalangan bisa memiliki hak menulis apa yang ingin ditulisnya selagi itu bermanfaat bagi pembaca dan dirinya sendiri. Semua kalangan berhak merasakan efek positif dari menulis.
Tidak ada salahnya menulis. Membaca juga merupakan bagian dari melatih kemampuan menulis. Bagi saya, bagian paling menggembirakan adalah  proses dari menuangkan ide ke dalam bentuk tullisan. Proses di mana kita menjadi dewasa dengan kata-kata. Proses di mana kita akan berdamai dengan kebebasan. Khusus, kebebasan menulis itu sendiri. Tidak perlu muluk-muluk untuk menjadi penulis. Tidak perlu harta yang berlimpah, kedudukan yang tinggi, wajah yang rupawan, atau lainnya. Hanya perlu ide. Belajar mengembangkan ide yang menarik dengan sering membaca dan menambah wawasan lewat media apapun. Seperti televise, radio, dan alam pun bisa dijadikan sebagai media mengembangkan ide. Untuk yang baru belajar pun, buat cerita sederhana saja.  Hanya catat saja ide apapun itu agar tidak lupa.
Budaya menulis amat jarang dilakukan oleh seseorang. Padahal sebuah tulisan dapat mempengaruhi kemajuan sebuah bangsa. Tulisan dapat merubah cara pandang seseorang akan sesuatu hal. Meskipun, tak hayal orang menganggap menulis adalah sebuah kegiatan biasa. Padahal menulis juga merupakan kegiatan untuk mengasah kreativitas seseorang. Orang yang memiliki kreativitas akan beruntung kelak, karena dunia kreatif tidak akan ada matinya.

Orang yang berhenti menulis, perkataannya akan membosankan. Kata yang digunakan akan diulang-ulang, tak bervariasi dan berubah-ubah. Dan akan membosankan jika berbicara atau menuangkan sebuah tulisan. Tulisan meskipun sederhana jika kata-kata yang digunakan hanya itu saja, juga akan membosankan bagi pembaca. Boleh saja penulis menggunakan bahasa yang sederhana dan tidak tinggi, tapi ingat! Kata-kata bervariasi juga diperlukan.

Kalian pernah mendengar kisah seorang anak SMA yang bernama Nurmillaty Abadiah yang menulis sebuah surat terbuka untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak M. Nuh. Sebuah tulisan tentang argumentasi dirinya terhadap Ujian Nasional yang dirasa sulit. Sebuah tulisan yang mampu membuat geger dunia pendidikan Indonesia. Nurmillaty yang dianggap hebat dengan hanya sebuah tulisannya itu, dan mampu mewakili perasaan pelajar Indonesia yang kala itu tengah menghadapi kelulusan mereka.
Bisa dibayangkan tulisan dapat merubah pola pikir seseorang. Dapat mengungkap fakta yang telah dipendam. Dapat merubah yang tidak tahu menjadi tahu. Semua bisa digali melalui tulisan.

Dan pertanyaan saya sendiri adalah, mengapa saya harus menulis? saya memiliki banyak alasan untuk menulis dan tidak memiliki alasan untuk tidak menulis. Menjadi seorang penulis adalah salah satu impian saya, Dan dengan menulis, perlahan saya dapat menggapai impian tersebut. Jadi, kenapa saya harus menulis, karena saya ingin menjadi seorang penulis.  

Terkadang saya sempat berpikir untuk berhenti menulis karena ide yang belum muncul— bukannya tidak muncul. Namun, setelah itu saya bangkit lagi. Mulai memainkan jemari saya di atas keyboard laptop atau sekedar mengetik kata-kata singkat di handphone. Apapun saya tulis. Entah itu berupa cerita fiksi, atau kejadian yang saya alami di hari itu. Jadi, setiap hari saya harus menulis, barang satu atau dua kalimat pun. Penting atau tidak tulisan itu, saya tulis saja dan simpan. Barang kali dibutuhkan sewaktu-waktu.
Saya mulai menyukai dunia menulis saat kelas sembilan SMP. Saat itu saya memiliki masalah yang besar. Yang saya tidak bisa mengadu kepada orangtua atau teman. Dan saya mencoba tuangkan dalam sebuah tulisan. Saat saya tuangkan, seperti beban dalam hidup saya sedikit berkurang. Meski sedikit, itu bermanfaat. Begitulah akhirnya saya berlanjut menulis. Seterusnya, hal sekecil apapun saya tulis. Setelah sekian lama, saya melihat-lihat bentuk tulisan saya dan saya dapat mengetahui perkembangan bentuk tulisan saya. Yang pada awalnya ‘hanya’ sekedar menulis dan pada akhirnya tulisan saya lebih terangkai dengan baik di banding sebelumnya. Hal ini karena saya giat berlatih untuk menulis.


Saat keberadaanmu tidak dianggap, menulis lah. Saat perkataanmu tidak di dengar, menulis lah. Saat momen bahagia mendatangimu, menulislah. Saat momen sedih mengusikmu, menulislah. Saat kakimu melangkah keluar, menulis lah. Tidak perlu waktu bahagia dan sedih saja kamu menulis. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi esok hari. Buat saja sebuah kenangan berupa tulisan yang akan dikenang massa dan zaman.